Underwater

Underwater
Life is meaningless only if we allow it to be. Each of us has the power to give life meaning, to make our time and our bodies and our words into instruments of love and hope. - Tom Head

chika's story

let the story begin (:

16.5.11

Precious Moments

Well, it's been decades.. -_-
topic,

Hari ini adalah hari besar untuk kakak2 kelas gue. Hari ini adalah hari dimana mereka resmi menjadi alumni SMA. Hari dimana mereka resmi melepas putih abu-abu. Hari dimana mereka resmi telah sukses menyelesaikan salah satu tahap dalam kehidupan mereka. Hari kelulusan.

Gue paling seneng dengan momen-momen seperti ini. Di mana air mata gue pasti menetes, terharu melihat perpisahan mereka. Ada sebuah pepatah mengatakan: "Pertemuan pasti ada perpisahan". Dan, ya, itu memang terjadi. Gue masih nggak bisa ngebayangin jika gue yang di posisi mereka. Jika gue yang lulus, dan gue harus meninggalkan semua teman-teman dan kegilaan yang gue jalani bersama mereka.

Untuk meninggalkan mereka, butuh jiwa yang besar. Butuh ketabahan dan hati yang bisa menerima bahwa perpisahan memang akan selalu ada. Pasti air mata akan mengalir... Namun dibalik semua itu, ada masa depan yang indah menanti. Tak perlu kawatir, jika pertemanan kalian memang 'nyata', tak akan ada yang namanya 'kenangan', karena kalian akan selalu bersama.

Persahabatan SMA itu paling tebal lho! Walaupun gue belum lulus sih, tapi dari beberapa sumber yang sudah lulus, teman-teman SMA adalah teman yang paling 'nempel' deh! Mama gue, bersahabat sampai sekarang dengan teman-teman yang dikenal dari SMA!

Pasti kadang sebagai anak muda, pasti males deh sekolah (Termasuk gue, yang sering bolos). Kita kadang kecapekan sama tugas-tugas dan tuntutan-tuntutan yang harus kita penuhi sebagai murid. Kadang, kita muak sama tetek bengek kewajiban kita di sekolah. Tapi gue yakin, nggak ada yang rela ninggalin teman2nya! So, jangan pernah wasting your time with nonsense things! Jaga waktu berharga ini sebaik2nya. Hidup cuma sekali. ;)

Kalo kata @poconggg, your college friends know who you are, but your highschool friends know why.

Ciao!

6.2.11

Until Death Do Us Apart?

Sekali lagi, awalan yang selalu gue pake di setiap blog, it's been a decade since I wrote! LOL

Sekarang, gue mau ngebahas hal yang lagi aktual di jaman sekarang, tahun dua ribu sebelas. Bukan hanya terjadi dalam dunia selebritis, tetapi juga tidak jarang terjadi di dunia kaum awam seperti kita. Yaitu: Perceraian.

Sekarang, kata itu udah nggak asing lagi di telinga kita. Baik kalangan selebritis, pemerintah, bahkan sampai kerabat kita sendiripun mengalami itu. Perceraian. Hmm, kadang-kadang gue penasaran sama apa yang dibenak orang-orang pada saat memutuskan untuk bercerai.

Gue nggak tau untuk agama lain ya, tapi kalo di agama gue, Katolik, perceraian itu adalah hal yang haram, yang tidak akan pernah dibolehkan oleh Tuhan. Masalahnya, pernikahan itu kan hal yang sakral. Kita bersumpah pada Tuhan bahwa kalian akan terus bersama sampai maut memisahkan kita. Apa sekarang kata-kata itu, cuma kita ucapkan dalam mulut? Cuma kata yang kita keluarkan secara basa-basi, hanya ingin supaya prosesi pernikahan berlangsung dengan cepat dan kalian bisa menikmati malam pertama?

Apakah arti sumpah itu untuk orang-orang jaman sekarang?

Gue nggak bisa mengomentari alasan perceraian bagi umat manusia tahun dua ribu sebelas. Ada yang selingkuh, kekerasan dalam rumah tangga, dan berbagai hal lainnya. Yang bisa gue komentari adalah, apa kalian nggak berpikir masak-masak sebelum memutuskan untuk menikah?

Bagi gue, alasan, "Yah, gue kan nggak tau. Kan waktu pacaran dia nggak seperti itu, mana gue tau?" Itu ngarang banget. Karena apa? Kalian tau kan, menikah itu seharusnya hanya terjadi sekali seumur hidup. Dia akan menjadi pasangan yang akan menemani seumur hidupmu. Sampai kau meninggal. Yap.

Bukankah seharusnya kalian berpikir seribu, sampai sejuta kali sebelum menikahi orang itu? Bukankah seharusnya kalian mencoba mengetahui sifatnya terlebih dahulu sebelum menikah? Bukankah seharusnya kalian tidak menutup mata akan keburukannya? Bukankah seharusnya kalian lebih berpikir secara logis, sebelum bertindak?

Apa anda bisa menjawab?

Dan yang makin menggelikan, sekarang perceraian sudah menjadi seperti tren jaman sekarang. Nggak cerai? Nggak gaul. Kuno. Gue agak bingung melihat orang yang menceritakan perceraiannya dengan santai. "Eh, gue udah cerai sama si dia. Dia selingkuh! Apa banget kan?"

Bagi orang yang sudah punya anak, bukankah perceraian akan menimbulkan masalah pada mental bagi anak kalian? Tidakkah kalian tau, bahwa sebagian besar anak muda pengidap narkoba adalah karena orangtuanya bercerai?

Gue cuma pengin nasihatin, oke, gue masih muda, tapi gue berkata jujur dan secara logis, jangan berpikir terlalu cepat untuk menikah. Karena sejujurnya, perceraian tidak akan menambah untung untuk kalian. Perceraian hanya akan menambah dosa.

Until death do us apart?

Ah, kuno lo.

Regards,
Chika.

20.11.10

Psikologis Faker

It's such a long time since I posted in this blog! :)

Sekarang bahasan gue agak serius dan agak frontal.

Di Twitter, (dulu) ada acc yang dikira asli bernama @biandominique. Dia nge-tweet kata-kata bijak yang dikira memang buatannya sendiri. Dia terkenal, dan banyak orang yang kagum akan dia. Sebenarnya gue sendiri nggak terlalu suka. Gue menganggap dia terlalu munafik dengan segala kata-katanya. Manusia itu berperasaan, dan alangkah baiknya kalo kita mengekspresikan berbagai ekspresi kita dengan berbagai cara. Itu lebih manusiawi dibanding segala tetek bengek kebijakan seperti itu. Tapi, dulu saya tetap respect sama Bianca Dominique karena cara dia berserah kepada-Nya.

Sampai kehebohan itu ada. Ada account pembenci Bianca Dominique (@BIANHATERS) yang menyebarkan fakta bahwa Bianca Dominique adalah account fake dan avatarnya memakai foto orang lain (Tarita Hasman). Semua kaget dan nggak nyangka. Orang yang benci sama dia makin banyak. Termasuk gue. Gila aja, gue nggak nyangka orang yang nge-tweet seakan dia orang paling sempurna ternyata fake.

Sekarang dia muncul lagi (@dominiquebianca) dengan (sepertinya) foto aslinya dia. Dia bukan anak kuliahan, dan dia ternyata LABIL seperti remaja lainnya. Ini makin bikin gue shock dan makin kesel karena dia masih saja tetap munafik dengan segala tweetnya yang sok bijak dan pemaaf.

Anyway, itu hanya beberapa ulasan aja. Yang mau gue bahas sebenarnya KENAPA dia memalsukan identitasnya. KENAPA ada orang yang memalsukan identitasnya.
Sebenarnya Tuhan kan sudah menciptakan orang dengan kelebihan dan kekurangannya. Gue nggak cantik, tapi gue masih punya harga diri dan RASA SYUKUR KEPADA TUHAN atas segala yang diberikan kepada gue.

Gue pernah ketemu orang yang hampir mirip sama Bianca Dominique. Dia teman maya gue (nggak usah gue post disini juga), dia asik, lucu, gokil, pintar, dan CANTIK. Gue kagum banget sama dia. Cuma kelemahannya dia terlalu cinta sama pacarnya. Hubungan gue sama dia akhirnya sangat nggak bagus karena beberapa hal (yang nggak mungkin gue post disini). Intinya gue lost contact. Dia de-act FBnya dan... udah, gitu aja.

Nggak lama gue baru tau ternyata dia FAKE. Semua fotonya palsu, IDENTITASNYA PALSU. Gue shock berat. Ternyata orang-orang yang gue respect kebanyakan palsu.

Apa sisi psikologis yang menyebabkan mereka memalsukan identitas? Kurangnya percaya diri? Iseng? Jawaban atas pertanyaan itu nggak pernah ada jawabannya (terlebih karena gue nggak mengerti perasaan mereka.), tapi apapun alasannya, itu SALAH. Gue nggak berniat menghakimi, tapi apakah bukannya dengan segala kepalsuan mereka kita jadi memandang rendah? Tidak percaya? Itu salah dan dosa YANG HARUS DITANGGUNG SI INDIVIDU.

Last, gue juga agak kesel melihat orang-orang fake IKUTAN KESEL WAKTU DIHUJAT. Itu adalah resiko yang harus ditanggung, harusnya mereka sadar dari AWAL dengan apa yang dia lakukan. Jadi, kalian jangan MARAH, KESAL, karena hujatan yang ada pada kalian.

Karena, KALIAN YANG MEMBUAT MEREKA MENGHUJATMU. :)

God Bless You :)

Ciao.

16.9.10

Ingatan yang tak pernah berubah.

Halo :) Ini cerpen yang baru aku buat. Enjoy ya :)

Ingatan yang tak Pernah Berubah


Dia tertawa, dia tersenyum, dia memanggil namaku, dia marah, dia bercanda, dia berbicara, dia bermain, semua masih teringat jelas di ingatanku. Sangat jelas, tanpa perubahan.


Di musim dingin yang memang sangat dingin itu aku terduduk di bangku sekolah. Menunggu kakakku yang tidak akan datang sampai senja tiba. Selalu kusesali nasibku yang kurang mendapat perhatian dari keluargaku. Harta berlimpah buat apa? Kepuasan materi yang tak pernah habis buat apa? Lebih baik orang dan materi yang sederhana daripada seperti ini. Tak ada satupun perhatian yang pernah aku rasakan. Hidupku suram, ya, kau bisa bilang begitu. Aku memang cantik, kaya, terkenal. Semua orang mengagumiku. Tapi untuk apa? Aku tidak perlu kekaguman itu! Aku butuh perhatian yang ASLI bukan perhatian yang didasari rasa KAGUM!

Aku termenung, memikirkan nasibku yang sial. Ternyata hari itu tidak sesial yang kuduga. Aku melihatnya. Datang dengan baju kedodoran dan celana jins ketat, khas cowok jaman sekarang. Rambutnya sedikit berantakan. Dia berjalan cuek seakan sambil melihat Blackberrynya, seakan tidak memperdulikan dunia sekitar. Mataku seakan tidak berfungsi. Hanya bisa mengikuti setiap gerak darinya. Betapapun kucoba, aku tidak pernah bisa mengingat siapa lelaki itu.
Mungkin murid baru, pikirku. Rasa penasaranku tak tertahankan, saat kucoba untuk menyapanya, kakakku datang. Sudahlah, besok juga toh pasti ketemu.

Simpel aja, kami udah jadian. Ternyata dia memang anak baru, pindahan dari Jakarta. Sebulan aku mengenalnya, dan setiap melihatnya mataku tetap berhenti berfungsi. Hanya bisa mengikuti setiap pergerakannya. Dia baik, lucu, sopan, dan sangat menyayangiku. Dia juga menghormatiku. Dia sangat menghargai setiap pendapatku dan aktivitasku yang sibuk. Dia tidak terkenal. Dia bukan tipe cowok anak band atau basket yang mempunyai seribu fans. Dia hanya salah satu anggota cadangan tim sepak bola. Diapun mengaku ikut ekskul itu hanya sekadar mencari nilai di rapot. Dia bukan siapa-siapa untuk banyak orang. Tapi dia siapa-siapa bagiku.

Tidak ada hari yang tak indah walau sudah lima tahun kami berpacaran. Kami beda universitas bahkan kota. Tapi kami masih menjalin kasih. Dia selalu setia. Aku percaya itu. Aku tak pernah meragukannya karena menurutku hubungan yang didasari oleh keraguan tidak akan pernah berhasil. Aku tidak mau menjadi orang munafik seperti Ayah dan Ibu. Tapi ternyata bukan dia yang harus diragukan. Akulah orangnya. Rupanya kehidupan mahasiswi membuatku menjadi berubah dan gampang tergiur. Aku kecewakan dia dengan berkata 'Kau bukan untukku.' Ku hempaskan dia begitu saja tanpa beban dan tanpa penuh penyesalan. Aku selingkuh.

Empat tahun berlalu aku-pun menikah dengan selingkuhanku karena hamil. Hidupku kembali suram dengan kebodohanku. Pernikahanku bukan pernikahan yang bahagia. Suamiku mempunyai banyak simpanan dan anakku pun tumbuh menjadi anak yang nakal. Aku mencoba tegar dan mencoba untuk tidak menyesali keputusanku untuk menikahi dia. Kuingat terus janjiku ke Tuhan bahwa kami tidak akan terpisah sampai maut memisahkan kita, walau penuh duka.

Tahun berlalu dan umurku sekarang enam puluh lima. Suamiku sudah meninggal dan anakku entah dimana. Aku ditelantarkan di panti jompo dengan para tetua lainnya dan perawat yang jauh dari kata ramah. Aku mencoba tegar dan itu cukup berhasil. Mengingat aku terus bertahan dengan perilaku almarhum suamiku.

Dan saat itu tiba. Dia berjalan dengan langkah yang tidak berubah dari saat SMA dulu. Dengan langkah cuek yang tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya. Matakupun berhenti berfungsi seperti dulu. Penampilannya sudah berubah, tapi debaranku tetap sama. Dia melihatku dan sepertinya dia juga mengingatku, lalu dia tersenyum. Dan ingatan yang tak pernah berubah itu kembali berputar di kepalaku. Aku menemukannya kembali.

Ya, ingatanku tak pernah berubah, Dimas.

18.8.10

Change and Gone.

Helaw :)
-very very- long time no see folks ;)

I don't want to waste your time reading my post so let's just get into the topic.

Change. And Gone.
People changed. Everybody's changed. I wouldn't criticize that. But there's a different in mine. Their gone.

I read this on twitter - by the way you can follow me at @chikaperiuk , never mind -.
It was tweeted by @teenthings.
"#inmiddleschool there was so much drama and we had friends we ended up loosing in high school."

It makes my realized that everything was change, and gone.
In middle school, it was paradise. Everything was perfect. My school life, friend's, and love. It was all good.

But in high school, my happiness ended.
-) My school life : Nah, it's not as bad as I thought. But I frustrated with all the subject.
-) Friend : They're change. And gone.
-) Love: Never been worst.

I miss my middle school life. Miss my friends who I thought will be my BFF. But as the time walking, I know it was just a teen things. No more BFF. Even just a best friend.
"There was so much drama" And I thing the BFF thingy was a part of that.

But if it was a drama either, I don't care. I rather live in drama than to be like this.
"There was so much time we had together. We have fun and we cried. Where's all that? We lost it in the journey to the future."

Yeah. Change and gone.

6.7.10

History of Love

Hello!
Sekarang gue mau cerita tentang love history-gue (najis sumpeh bahasa gue deh).
Yah entah kenapa gue tiba-tiba nginget semua pacar-pacar gue dulu, sampe sekarang. Beberapa berkesan, beberapa cuma berlalu aja gitu.

Let's start.
Gue sering pacaran. Yah, kalau selama 16 tahun gue hidup gue udah hampir lima belas kali pacaran lo bilang jarang okelah. Sip aja sih. Menurut gue sih itu terlalu banyak.
Nope. Saya bukan playgirl. Hanya aja, gue cewek yang gampang suka sama cowok. Dan gue juga termasuk cewek yang bosenan. Dua minggu, bosen, putus. Yep, always.

Pertama kali pacaran. Kelas empat SD.
Dengan kepolosan gue, gue pacaran dengan salah satu teman se-antar jemput. Inisial E. Jujur aja sih, gue nggak ngerti apa yang namanya pacaran. Gue suka dekat sama dia, ngomong ama dia tuh seru! Nyambung. Tapi namanya bocah, begitu pacaran, malah saling menjauh. Dari deket, jadi kayak nggak kenal satu sama lain. Ckck. Dan akhirnya kita pacaran dengan cara paling alay sedunia, SMS-an.
Gue masih inget banget. Dia SMS gue.

Dia: Yank, besok ada renang?

Gue yang panik, karena dia panggil "yank" dengan begonya malah bales, "NGGAK!" Yes. Konyol banget.
Setelah itu kami udah jarang SMS-an, dan akhirnya putus gitu aja. Gue inget gue sedih dan nulis di diary tentang itu. KONYOL MAMPUS. (Tapi masih temenan kok. Karena kami satu SMP, satu kelas lagi. SMA sih beda sekolah.)

Terus gue pacaran, pacaran, pacaran, pacaran. Ada yang di luar kota - gue kenal lewat game - ada juga yang sekota. Semua ngebosenin! Nggak ada yang serius.
Sampe gue SMP. Baru masuk deh. Gue ke acara lebaran teman gue. Inisial S (cewek, lho!). Nyokapnya si S itu teman akrab nyokap gue. Jadi waktu hari Lebaran, mereka ngundang gue, dan keluarga gue. Namanya cewek, kerjanya ngegosip mulu!
Ternyata, di rumahnya itu dia ngajak dua temen cowoknya. Satu pacarnya.
Nah, satu temennya ini, inisial O. Lumayan sih, item manis, agak pendek, tapi senyumnya lucu! Orangnya juga kocak. Baru ngobrol satu jam aja rasanya udah akrab banget.

Terus mereka bilang, mau pergi dulu. Nanti balik lagi. Oke deh, mereka pergi. Gue ama si S ngobrol-ngobrol. Ngegosip. Dan si S sempet ngomong sama gue.

S: Chik, kayaknya O suka ama kamu deh!
Gue: Hah? Yang bener aja, orang kita kenal aja baru se-jam-an!
S: Yah, hubungannya apa coba? Namanya suka mah nggak perlu nunggu sebulan kali.

Eh bener aja lho! Si O, sama cowoknya S dateng sekitar satu jam sesudahnya. Dan oh-oh-oh. Si O nembak gue!
Kaget banget gue. Dia tadi pergi itu ternyata beli boneka. Bentuknya tiga hati gitu, tulisannya I, LOVE, YOU. Lucu BANGET!

O: Chika, aku suka sama kamu.
Gue: Hah?
O: Iya, aku suka sama kamu. Kalo mau, kamu ambil boneka ini. Kalo nggak, yah, nggak usah ambil.

Gue langsung celingak-celinguk. Siapa tau ada kamera. Abis mirip sama acara jadul "Katakan Cinta" sih. Setelah mastiin nggak ada kamera, gue kembali ngeliat itu boneka. Anjrit, lucu banget lho! Gue masih simpen utuh sampai sekarang. Muncullah, tanduk di otak gue.
Dengan kelicikan bak Kaito Kid, gue menerimanya. Gue nerima ucapan cintanya dia, hanya untuk boneka-imut-anjrit.
Besoknya, gue putusin. Yep, gue pacaran nggak sampai sehari.
Tapi gue bersyukur deh putus sama dia! Pas putus itu masa sih dia ngirimin puisi-puisi kuonyol. Apa banget deh.

Pacaran, pacaran, pacaran.

Gue sempet pacaran sama mantannya si S itu. Inisialnya SS. Dia ketua OSIS, cowok keren, dan terkenal juga. Tapi nggak lama, tiga minggu deh. Abis itu putus. Kayaknya pas jadi kakak adik aja.

Pacaran, pacaran, pacaran.

Baru deh. Gue jatuh cinta. Tahun 2007. Kelas 7 semester dua. Gue jatuh cinta secara tidak normal. Melalui game. Dari pertama kakak adik, gue jadi suka, dan akhirnya pacaran.
Dia beda. Dia cakep, tinggi (banget! 182 cm!), dan gombal. Gue nggak pernah ketemu dia, tapi gue sayang banget sama dia. Kalo lo tanya kenapa gue bisa sayang banget sama dia, gue juga bingung -_-
Tapi kali ini beda, gue nggak suka dia. Seperti ke mantan-mantan gue. It was as simple as I'm. In. Love.

Pacaran sama dia, gue banyak ngabisin air mata. Dia tukang selingkuh. Selingkuh mulu. Dia juga tukang boong. Pacaran sama dia tuh banyak menderitanya! Mata bengkak bukan hal aneh lagi, sering banget gue nangisin dia sampe bengkak.

Tapi gue sayang. Gue nggak mau lepas. Sorry, jangan anggep gue cewek murahan yang gitu putus gue ngemis-ngemis minta balik. I'm not that stupid. Dia kok yang selalu ngajak balikan, dan yah, gue selalu bilang iya.

Pacaran sama dia itu nyaman banget (walopun selingkuh terus). Gue bisa leluasa ngomong apa aja, buat apa aja. Gue bisa santai ngomong sama dia, "Aku belom mandi dari pagi lho Yang!" atau, "Aku makan sampai nambah dua kali! Enak banget deh!" atau juga, "Ihh, kamu kayak tai banget deh." (?)
Pokoknya, gue bisa jadi Chika.

Tapi yah itu, gue menderita. Sering banyak yang ngomong, "Chik lo bego ya? Cowok brengsek gitu lo masih mau." Yeah, gue bego. Gue mau dia. Gue akhirnya sadar gue nggak bisa pacaran sama dia tanpa disakitin. Dan itu konsekuensi.
Toh gue udah kenal adik, ama Ibunya. Dia juga udah kenal sama ortu gue. Makan bareng, liburan bareng malah! Dan dia juga akrab sama kakak-kakak gue, dan teman-teman gue. Pacar idaman banget deh.

Tapi akhirnya sakit kayak gitu udah nggak tahan. Setelah dua tahun pacaran, gue udah mulai ngerasa muak dengan segala kelakuannya. Capek ngelabrak cewek, "Heh gue ceweknya dia! Lo siapa?!". Capek mikirin dia ngapain, sama siapa. Capek segalanya. Dan akhirnya putus.

Kami masih temenan kok. Dia masih suka manggil gue "Sayang", tapi gue sih sok cool aja. Kalo dibilang apa gue udah ngelupain dia seutuhnya? Menurut gue belom. Namanya first love, susah banget dilupain.
Walau sehabis pacaran sama dia, gue juga pacaran ama beberapa cowok lain, tapi gue ngerasa dia tetep yang terbaik. Sekaligus terburuk.

Sekarang gue single, dan gue ngerasa sangat nyaman. Nggak perlu capek mikirin dia, nggak perlu capek cemburu, dan tentu aja bebas deket sama cowok mana aja.
Mau pacaran berbanyak kali juga, single is the best.

"I'm single, and very happy (':"

Ciao :*

1.7.10

My New Lovers ♥

Helloooo :D

In this post, I'd like to share my new lovers. (:
But before that, I have words to tell.

I always love Korean drama. And of course the guys too ;) They're just too cute. They have the deadly smile who can make us faint in no time. Like my post before the fourth, third, and first is Korean guys.

And FYI, I'm MAD, CRAZY, NUTS (yeah anything) to Kim Bum.




And also RAIN, and Lee Min Ho.
But not as mad as I am with Kim Bum. :p
(Awite let's not talk about him. I'll jump over the bed and be crazy.)

Anyway, you might think my guy type will be like them.
White.
Tall.
Cute.
Deadly smile.

Noooooope. You're wrong.
That type's not my priority. It's just for my satisfaction. In Indonesian "Cuci Mata" (well, I'm not gonna translate it to English because... yeah forget it. It's too ridiculous.)
I rather have an "ordinary" boyfriend compared to "extra-ordinary" one.
I'll be jealous till die. (But of course I won't say "no" if one of them ask me to go out. Yep, just daydreaming)

And okay, I'll introduce you - with love - my new lovers. I saw him at "Oh! My Lady" drama just now. He's cute, deadly smile (He really has a unique way to smile y'know. And I love it :D), tall, oh. And he's body. Sluuuurpppyyy~~ Six pack, those GREAT muscles. And don't forget, those cuteeeeeeeeeeeeeeeeeest dimples I ever see!

(Okay. Geez, I need to take a breath)

And, I welcome you...

CHOI SI WON ♥





Look! TAKE A LOOK! He has a unique way to smile rite?
Actually he's one of the member of Super Junior (Korean group of singer- like, boyband?)
Su-Ju has 13 (maybe) members. And I'm not their big fans. And I didn't know who Choi Si Won was. Till now.

Are. You. Excited?


Welcome to the jungle, honey ♥