Underwater

Underwater
Life is meaningless only if we allow it to be. Each of us has the power to give life meaning, to make our time and our bodies and our words into instruments of love and hope. - Tom Head

chika's story

let the story begin (:

16.9.10

Ingatan yang tak pernah berubah.

Halo :) Ini cerpen yang baru aku buat. Enjoy ya :)

Ingatan yang tak Pernah Berubah


Dia tertawa, dia tersenyum, dia memanggil namaku, dia marah, dia bercanda, dia berbicara, dia bermain, semua masih teringat jelas di ingatanku. Sangat jelas, tanpa perubahan.


Di musim dingin yang memang sangat dingin itu aku terduduk di bangku sekolah. Menunggu kakakku yang tidak akan datang sampai senja tiba. Selalu kusesali nasibku yang kurang mendapat perhatian dari keluargaku. Harta berlimpah buat apa? Kepuasan materi yang tak pernah habis buat apa? Lebih baik orang dan materi yang sederhana daripada seperti ini. Tak ada satupun perhatian yang pernah aku rasakan. Hidupku suram, ya, kau bisa bilang begitu. Aku memang cantik, kaya, terkenal. Semua orang mengagumiku. Tapi untuk apa? Aku tidak perlu kekaguman itu! Aku butuh perhatian yang ASLI bukan perhatian yang didasari rasa KAGUM!

Aku termenung, memikirkan nasibku yang sial. Ternyata hari itu tidak sesial yang kuduga. Aku melihatnya. Datang dengan baju kedodoran dan celana jins ketat, khas cowok jaman sekarang. Rambutnya sedikit berantakan. Dia berjalan cuek seakan sambil melihat Blackberrynya, seakan tidak memperdulikan dunia sekitar. Mataku seakan tidak berfungsi. Hanya bisa mengikuti setiap gerak darinya. Betapapun kucoba, aku tidak pernah bisa mengingat siapa lelaki itu.
Mungkin murid baru, pikirku. Rasa penasaranku tak tertahankan, saat kucoba untuk menyapanya, kakakku datang. Sudahlah, besok juga toh pasti ketemu.

Simpel aja, kami udah jadian. Ternyata dia memang anak baru, pindahan dari Jakarta. Sebulan aku mengenalnya, dan setiap melihatnya mataku tetap berhenti berfungsi. Hanya bisa mengikuti setiap pergerakannya. Dia baik, lucu, sopan, dan sangat menyayangiku. Dia juga menghormatiku. Dia sangat menghargai setiap pendapatku dan aktivitasku yang sibuk. Dia tidak terkenal. Dia bukan tipe cowok anak band atau basket yang mempunyai seribu fans. Dia hanya salah satu anggota cadangan tim sepak bola. Diapun mengaku ikut ekskul itu hanya sekadar mencari nilai di rapot. Dia bukan siapa-siapa untuk banyak orang. Tapi dia siapa-siapa bagiku.

Tidak ada hari yang tak indah walau sudah lima tahun kami berpacaran. Kami beda universitas bahkan kota. Tapi kami masih menjalin kasih. Dia selalu setia. Aku percaya itu. Aku tak pernah meragukannya karena menurutku hubungan yang didasari oleh keraguan tidak akan pernah berhasil. Aku tidak mau menjadi orang munafik seperti Ayah dan Ibu. Tapi ternyata bukan dia yang harus diragukan. Akulah orangnya. Rupanya kehidupan mahasiswi membuatku menjadi berubah dan gampang tergiur. Aku kecewakan dia dengan berkata 'Kau bukan untukku.' Ku hempaskan dia begitu saja tanpa beban dan tanpa penuh penyesalan. Aku selingkuh.

Empat tahun berlalu aku-pun menikah dengan selingkuhanku karena hamil. Hidupku kembali suram dengan kebodohanku. Pernikahanku bukan pernikahan yang bahagia. Suamiku mempunyai banyak simpanan dan anakku pun tumbuh menjadi anak yang nakal. Aku mencoba tegar dan mencoba untuk tidak menyesali keputusanku untuk menikahi dia. Kuingat terus janjiku ke Tuhan bahwa kami tidak akan terpisah sampai maut memisahkan kita, walau penuh duka.

Tahun berlalu dan umurku sekarang enam puluh lima. Suamiku sudah meninggal dan anakku entah dimana. Aku ditelantarkan di panti jompo dengan para tetua lainnya dan perawat yang jauh dari kata ramah. Aku mencoba tegar dan itu cukup berhasil. Mengingat aku terus bertahan dengan perilaku almarhum suamiku.

Dan saat itu tiba. Dia berjalan dengan langkah yang tidak berubah dari saat SMA dulu. Dengan langkah cuek yang tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya. Matakupun berhenti berfungsi seperti dulu. Penampilannya sudah berubah, tapi debaranku tetap sama. Dia melihatku dan sepertinya dia juga mengingatku, lalu dia tersenyum. Dan ingatan yang tak pernah berubah itu kembali berputar di kepalaku. Aku menemukannya kembali.

Ya, ingatanku tak pernah berubah, Dimas.